Sintang

Banner
Banner

Cak Imin: Kenapa Saya Tidak Mau PKB Jadi Partai Islam ?

Komentar (0)

17 November 2017, 19:24:33 WIB oleh Admin | dilihat: 39 kali

Print
Cak Imin: Kenapa Saya Tidak Mau PKB Jadi Partai Islam ?

JAKARTA, (Kalimantan-News) - Saya tidak pernah mau PKB menjadi partai Islam. Kenapa?" Demikian pertanyaan yang dilontarkan oleh Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar, saat mengisi kuliah umum di Universitas Negeri Makassar, Jumat (17/11).

Menurut pria yang akrab dipanggil Cak Imin ini, predikat Islam terlalu mulia untuk dijadikan simbol politik, terlebih sebagai obyek transaksi.

"Bagi saya, lebih baik kami jadi partai biasa, partai umum, tapi kelakuan kami bisa diupayakan Islami. Daripada sebaliknya. Karena Islam terlalu mulia untuk ditarik-tarik menjadi simbol politik apalagi obyek transaksi antarkepentingan," kata Cak Imin.

Saat menyampaikan sambutannya, Cak Imin tampak didampingi Rektor UNM Prof Dr Husain Syam.

“Saya ingin Islam jadi solusi, bukan jadi bagian dari masalah. Jadi yang mempermudah, bukan yang mempersulit,” lanjutnya.

Saat ditanya mengenai Perppu Ormas yang saat ini sudah berubah menjadi Undang-Undang, Cak Imin menyatakan negara memang harus tegas menghadapi paham-paham yang hendak menggugat dasar negara dan kebhinekaan yang sudah menjadi prinsip rakyat Indonesia selama puluhan tahun.

Indonesia memang negara plural. Dan potensi gesekan pun selalu ada. Namun, kata Cak Imin, kondisi itu jangan ditambah lagi dengan upaya-upaya terencana dari kelompok tertentu.

"Di sisi lain, saya berketetapan bahwa sejumlah pasal dalam Perppu ini harus wajib dirombak. Karena memang berpotensi disalahgunakan untuk membungkam oposisi. Itu jalan tengah yang kami usulkan kepada pemerintah. Dan pemerintah sudah setuju. Kita kawal prosesnya", demikian penjelasan Cak Imin.

Sementara Rektor UNM Prof Dr Husain Syam juga menilai komitmen ini membuktikan bahwa Cak Imin telah mumpuni untuk menjadi pemimpin nasional. Bukan hanya sebagai Panglima Santri, melainkan juga pemimpin bagi semua golongan.


Cak Imin : Ayo Rileks Menghadapi Perbedaan, Jadikan Guyon yang Sehat Saja

Ballroom Theatre Universitas Negeri Makassar Jumat pagi tadi penuh sesak. Mahasiswa S1, S2 dan S3 sejak jam 9.30 sudah duduk rapi, sebagian memakai jaket almamater. Pukul 9.30, Rektor UNM Prof. Dr. Husain Syam membuka Kuliah Umum berjudul : Membumikan Semangat Kebhinnekaan dalam Memperkokoh Keutuhan NKRI dengan pembicara Dr. (HC) Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.

Rektor Prof Dr Husain Syam M. TP yang usianya sama dengan Cak Imin ini memuji Cak Imin karena selalu kelihatan muda. Tapi meski muda pencapaiannya sudah segudang. Sehingga rasanya layak menjadi pemimpin masa depan di republik ini.

Mendapat pujian begitu, Cak Imin senyum senyum dan mengucapkan terima kasih. Mengenakan blazer tanpa dasi dan peci, cak imin menyampaikan kuliah umumnya sarat guyon. Menurutnya perbedaan itu jadikan guyonan yang menyenangkan yang bisa kita nikmati bersama, menertawakan diri kita bersama. Rileks saja memandang perbedaan, jadikan humor yang sehat.

"Padahal Piagam Madinah menyatakan bahwa yang harus dimusuhi bukan orang yang berbeda, tapi penguasa yang zalim". Jadi sudah jelas kan siapa yang harus menjadi teman dan lawan?

"Daripada memusuhi orang yang berbeda, lanjut cak Imin, lebih baik kita fokus membenahi ekonomi.kita yang timpang dan belum adil ini".  Lihat laporan Bank Dunia 2015 yang menempatkan Indonesia sebagai juara ke-3 paling timpang sedunia, di bawah Rusia dan Thailand. Sementara 1% orang terkaya Indonesi hartanya setara dengan 50,3% kekayaan nasional. Sementara dari 191 juta ha tanah, 93% nya dikuasai oleh pemodal swasta dan asing. Sisanya baru dikeroyok bersama hampir 35 juta petani gurem dan menengah.

"Ayolah kita kerja sama mengatasi kegawatan ketimpangan ini. Meskipun kita berbeda, toh secara ekonomi nasib kita kurang lebih sama. Kita perlu solidaritas bukan saling marah. Pak Jokowi sedang berusaha. Kalau ada yang masih kurang, ayo kita ingatkan. Kalau ada yang positif, mari kita apresiasi," demikian tutup Cak Imin.(Rilis)

Komentar (0)

Beri Komentar

Belum ada komentar, silahkan jadi yang pertama

Beri Komentar




Security Number