Sintang

Banner
Banner

Taufik: Peredaran Daging Beku di Melawi Harus cek Secara Rutin

Komentar (0)

14 November 2017, 20:07:43 WIB oleh Edi | dilihat: 20 kali

Print
Taufik: Peredaran Daging Beku di Melawi Harus cek Secara Rutin

Melawi - NANGA PINOH, (Kalimantan-News) - Sejak beredarnya daging sapi beku atau daging dapi impor, sudah semakin sulit menemukan daging sapil lokal. Karena pemotong sapi sudah jarang motong sapi lokal. Rata-rata pedagang dibeberapa tempat di Nanga Pinoh menjual daging sapi beku atau daging sapi impor.

Taufik, anggota Komisi I DPRD Melawi minta kepada dinas terkait dalam hal ini Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan, Dinas Kesehatan dan Dinas pertanian supaya pro aktif melakukan pengawasan terhadap peredaran daging beku tersebut.

“Dinas terkait harus aktif melakukan pengecakan dilapangan. apakah daging-daging beku yang beredar dipasar tersebut layak konsumsi atau tidak,” ungkapnya, Selasa (13/11).

Lebih lanjut Taufik mengatakan, yang perlu dicek itu seperti masa kedaluarsa daging beku tersebut, kemudian prilaku penyimpanan daging beku utu sendiri. Termasuk kondisi dari daging beku itu sendiri. Sebab daging beku ini cepat berubah warna.

“Jangan sampai karena penanganannya tidak standar, merugikan konsumen yang tidak mengerti dengan tata cara penyimpanan daging beku itu,” ujarnya.

Menurut Taufik, untuk menanggulangi keterbatasan ketersediaan daging sapi lokal di Melawi ini memang harus ada langkah-langkah dari dinas terkait. Sebab kalau melihat dari kondisi dipasar sekarang, rata-rata pedagang menjual daging beku. Bahkan daging sapi lokal sudah jarang dijual dipasar.

“Kami memang tidak mengkonsumsi daging beku, kalau tidak ada yang motong sapi lokal, kami tidak beli daging sapi,”  ucapnya.

Kalau memang di Melawi ini pemotong sulit mendapatkan sapi lokal, tentu harus ada upaya dari dinas terkait untuk membantu pemotong mendatangkan sapi dari luar. Sebab yang sering menjadi keluhan dari para pemotong sapi itu, sapi lokal sudah sulit didapat. Kalaupun  ada yang jual sapi siap potong harganya tinggi.

Pedagang daging sapi di Pasar Tradisional Markasan mengatakan,  rata-rata pedagang di pasar tersebut menjual daging sapi beku atau impor. Kalaupun ada yang potong sapi lokal, paling seminggu sekali. “Sapi lokal sulit didapat. Kalaupun ada yang jual harganya tinggi. Harga daging sapi lokal  Rp 150 ribu perkilo,” ungkapnya.

Sebagai pedagang dia juga minta kepada dinas terkait supaya sering-sering turun lapangan untuk mengecek daging beku yang beredar dipasar. Sebagai pedagang atau penjual daging beku, mereka tidak tahu apakah daging yang mereka jual tersebut layak atau tidaknya dikonsumsi. (KN)

Komentar (0)

Beri Komentar

Belum ada komentar, silahkan jadi yang pertama

Beri Komentar




Security Number