Sintang

Banner
Banner

Buku Kurikulum 2013 Belum Datang, Siswa terpaksa Memfotocopy

Komentar (0)

10 Oktober 2017, 20:25:54 WIB oleh Edi | dilihat: 72 kali

Print
Buku Kurikulum 2013 Belum Datang, Siswa terpaksa Memfotocopy

Melawi - NANGA PINOH, (Kalimantan-News) - Akibat buku kurikulum 2013 belum datang, membuat pihak sekolah keselutian dalam memberikan bahan pengajaran. Sehingga pihak sekolah banyak meminta para murid untuk melakukan fotocopy buku kurikulum yang sudah ada.

Akibatnya, para orang tua banyak mengeluhkan tidak adanya pembagian buku pegangan siswa dari sekolah. Karena untuk mendapatkan buku tersebut, anaknya  terpaksa harus memfotocopy buku pelajaran milik temannya.

Seperti yang disampaikan Sinta, salah satu orangtua murid SD di Nanga Pinoh. Ia merasa kerepotan selalu memfotocopy buku peljaran anaknya. Padahal buku kurikulum 2013 sudah di di sediakan Negara. “Repot kalau terus terusan fotocopy,” ucapnya.

Saat dikonfirmasi terkait pengadaan buku tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Melawi, Joko Wahyono mengatakan untuk kurikulum tahun 2013 yang mulai diterapkan oleh sekolah-sekolah pada bulan Juli tahun pelajaran 2017-2018 itu bukunya disiapkan oleh pemerintah melalui dana BOS.

“20 persen anggaran atau dana BOS ditahun 2017 harus digunakan oleh sekolah untuk membeli buku pelajaran tersebut. Baik kurikulum 13 maupun KTSP,” ungkapnya, Selasa (10/10).

Sebenarnya kata Joko, semua sekolah sudah memesan secara online  kepada pihak penyedia atau konsorsium yang sudah ditunjuk oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi pada kenyataanya, sampai dengan hari ini, buku tersebut belum datang. “Dengan alasan dari pihak konsorsium berbagai macam alasan, seperti alasan cuaca buruk, buku belum dicetak semua dan lain sebagainya. Inilah kenyataan yang ada,” ujarnya.

Dikatakan Joko, buku tersebut sebenarnya bisa dibuka di goggle atau internet. Sehingga pihak sekolah bisa mencatak buku tersebut. Hanya saja untuk menggandakannya pihak sekolah tidak punya uang, karena uangnya sudah digunakan untuk membayar buku yang sudah dipesan tersebut.

Kalau ada sekolah yang meminta kepada siswanya untuk memfotocopy buku, sebenarnya tidaklah wajib anak-anak untuk memfotocopy.Untuk siswa yang mampu mungkin bolehlah, tapi bagi yang tidak mampu sebaiknya tidak usah.  

“Namun cukuplah guru menyampaikan pelajaran, materi yang ada didalam buku-buku elektronik tersebut langsung kepada siswa atau dengan mencatallah sementara waktu agar tidak memberatkan orang tua,” tuturnya.

Namun demikian, joko tetap berharap suapay secepatnya buku elektronik atau buku yang dipesan kepada delapan konsorsium tersebut bisa cepat sampai ke sekolah masing-masing sesuai dengan pesanan sekolah.

“Sebelum buku itu datang. Sebaiknya guru tidak usah mewajibkan kepada siswa untuk memfotocopy buku. Karena buku itu pasti akan datang,” pungkasnya. (KN)

Komentar (0)

Beri Komentar

Belum ada komentar, silahkan jadi yang pertama

Beri Komentar




Security Number