Sintang

Banner
Banner

Konsensus Dan Peran Sentral Asean Dalam Situasi Baru

Komentar (0)

20 Februari 2017, 20:00:48 WIB oleh Mohammad Anthoni | dilihat: 89 kali

Print

- Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) akan merayakan ulang tahun ke-50 berdirinya tahun ini (8/8).

Dalam konteks situasi dunia dan kawasan saat ini, banyak perubahan yang kompleks terjadi seperti masalah Laut China Selatan (LCS), isu terorisme dan kebijakan baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sudah saatnya asosiasi ini harus merenungkan masa depannya. Sebuah pertanyaan penting adalah bagaimana ASEAN menjadi lebih efektif dalam mengatasi tantangan keamanan yang muncul.

Kekhawatiran yang ada dewasa ini ialah ASEAN tidak dapat membentuk sikap umum atas isu sengketa LCS. Alasan utamanya ialah karena negara-negara anggota perhimpunan ini telah menyepakati prinsip-prinsip dalam berinteraksi.

Pentingnya Prinsip Konsensus
Konsensus merupakan prinsip dasar yang harus dipertimbangkan oleh negara-negara anggota ASEAN yang beragam dalam mengambil keputusannnya. Sesuai Piagam ASEAN negara-negara anggota memiliki kedaulatan dan konsensus diambil untuk mencegah marjinalisasi negara anggota dalam keputusan penting kelompok.

Selain itu, karena negara-negara di kawasan ini berbeda dalam menerapkan sistem demokrasi, mereka waspada dari kemungkinan intervensi dari luar dalam urusan internal.

Prinsip konsensus membantu mempertahankan solidaritas ASEAN dan membuat negara-negara anggota merasa lebih nyaman berpartisipasi dalam asosiasi.

Sebaliknya prinsip ini juga melemahkan kemampuan ASEAN untuk bertindak guna mengatasi beberapa masalah keamanan.

ASEAN dalam mencapai konsensus tampaknya semakin sulit setelah keanggotaannya bertambah dari enam menjadi 10 negara. Sejumlah besar anggota asosiasi ini sulit menemukan kesamaan di antara para anggotanya karena kepentingan nasional mereka yang berbeda.

Pada saat yang sama, bertambahnya jumlah anggota juga memfasilitasi intervensi kekuatan eksternal dalam proses pengambilan keputusan kelompok. Karena prinsip konsensus pada dasarnya memungkinkan setiap anggota memiliki hak veto atas keputusan yang diambil.

Suatu kekuatan eksternal dapat dengan mudah memanfaatkan pengaruhnya terhadap satu negara anggota ASEAN untuk mencegah keputusan yang kekuatan itu anggap merugikan kepentingan nasional.

Prinsip Konsensus dan Sengketa LCS
Pada Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN (AMM) ke-45 dengan Kamboja sebagai tuan rumah pada Juli 2012, Phnom Penh telah menolak untuk memenuhi persyaratan dari negara anggota lain menyangkut sengketa LCS dan peningkatan kegiatan-kegiatan China di kawasan ini dalam pernyataan bersama mereka. Hal itu terjadi untuk pertama kali dalam sejarah ASEAN.

Dalam pertemuan tahunan yang diselenggarakan pada 49 Juli 2016, para menteri luar negeri ASEAN tidak bisa mencapai konsensus tentang masuknya pernyataan bersama mereview putusan bersejarah oleh pengadilan arbitrase internasional terkait gugatan antara Filipina dan China atas sengketa LCS.

China masih aktif menyelesaikan pembangunan pulau-pulau di kawasan ini yang memiliki peran strategis dengan pengangkutan barang tahunan senilai hingga lima triliun dolar AS. Oleh karena itu, jika rute maritim ini terganggu, maka ekonomi di banyak negara di seluruh dunia akan mengalami kerugian.

Mengingat pentingnya keamanan maritim, terutama yang berkaitan dengan negara-negara anggota ASEAN, perhimpunan ini harus memiliki konsensus dan solidaritas untuk mengatasi tantangan ini.

Perundingan dengan China tentang Tata Perilaku (COC) yang substantif dan efektif di Laut Timur - istilah Vietnam untuk Laut China Selatan harus terus dilakukan. Ini juga akan memberikan sumbangan bagi pemeliharaan kepentingan nasional yang selaras dengan manfaat seluruh sektor, sehingga membantu untuk mempertahankan peran sentral ASEAN dalam struktur keamanan regional.

Edisi Baru Peran ASEAN
Konteks geostrategis di wilayah ini berubah dengan cepat, dengan banyak efek mendalam, rumit di lingkungan perdamaian, keamanan, stabilitas dan pembangunan di kawasan. ASEAN saat ini sedang dalam tahap menuju pembentukan Komunitas ASEAN.

Negara-negara besar terlibat semakin dalam untuk bekerja sama di lingkup regional bagi perubahan dan penyesuaian dalam strategi dan interaksi antara negara-negara besar bersama-sama dan dengan ASEAN, yang menimbulkan tidak hanya kesempatan tapi juga tantangan untuk mempertahankan peran sentral ASEAN.

Dalam kaitan ini, negara-negara ASEAN menekankan perlunya untuk mengonsolidasikan lebih dan memelihara peran sentral di kawasan ini, terutama pada aspek: Pertama, untuk penentuan dan upaya terbaik demi keberhasilan proses membangun Komunitas ASEAN, sebuah komunitas bersatu dan prasyarat yang kuat untuk kepercayaan anggota dan lebih koheren satu sama lain dan dengan ASEAN.

Kedua, memperkuat dan mempromosikan peran sentral ASEAN di bebagai media. ASEAN harus terus menegakkan standar dan kode etik ASEAN sesuai dengan Piagam ASEAN, TAC, SEANFWZ, DOC , mempromosikan pembangunan terstruktur ASEAN sebagai kawasan dengan peran kunci; sumber daya internal sementara membangun basis ekonomi yang kuat untuk memperkuat integrasi ekonomi di kawasan dan di luar kawasan.

Ketiga, putusan Pengadilan Tetap Arbitrase PBB di Den Hag, Belanda, pada 12 Juli 2016 merupakan dasar hukum penting bagi ASEAN dan China untuk mempercepat proses konsultasi dan negosiasi menuju penyelesaian awal dari COC tahun ini.

Masalahnya adalah bahwa COC mengikat secara hukum, memiliki kemampuan untuk tidak hanya mencegah tetapi juga menangani kerumitan yang bisa terjadi di LCS.

Keempat, memperkuat mekanisme kerja sama internal maupun dengan mitra-mitra untuk merespon segera dan efektif terhadap tantangan keamanan tradisional dan nontradisional, terutama di wilayah sengketa, maritim, bencana alam, epidemi, lingkungan. Selain itu, seiring dengan meningkatnya ketergantungan antarbangsa, ASEAN perlu menjadi organisasi yang lebih efisien dengan konektivitas tanpa batas.

50 tahun adalah tonggak sejarah dalam evolusi ASEAN dan menegaskan peran dan posisi ASEAN sebagai organisasi regional yang paling sukses.

Para pemimpin negara-negara anggota ASEAN perlu meningkatkan solidaritas, saling bersama-sama mengatasi tantangan-tantangan ini untuk melanjutkan menciptakan lingkungan yang damai dan stabilitas untuk pembangunan bersama.  (*)


Sumber: http://www.antaranews.com

Komentar (0)

Beri Komentar

Belum ada komentar, silahkan jadi yang pertama

Beri Komentar




Security Number